“Jalani Hidup Kita Sendiri”
Setiap dari kita adalah para ksatria yang tengah menjalani perangnya sendiri-sendiri di dalam diri ini, yang mungkin saja musuhnya sama karena kita hidup di zaman yang tantangannya serupa.
Namun besar kemungkinan pertempurannya akan berbeda-beda, karena cara kita memberi makna atas jalan hidup kita tidak akan persis sama, dan oleh karenanya, jangan pernah merasa bahwa kita lah yang paling sengsara.
Tetangga kita yang mungkin cuma ketawa-ketawa saja saban berjumpa, boleh jadi menyimpan duka lara lebih dari apa yang bisa kita duga, dan begitu pula sebaliknya, yang terlihat diam saja, justru bisa jadi tengah sangat berbahagia.
Buktinya juga ada pada diri kita semua, dan mungkin pula tercermin dalam isi media sosial kita.
Apa yang mudah bagi kita, sangat mungkin menjadi sulit bagi manusia lainnya, dan apa yang sulit menurut kita, tidak aneh jika dianggap mudah oleh siapapun juga.
Kita tidak akan pernah benar-benar tahu neraka apa yang pernah dilalui mereka, dan demikian juga mereka tidak akan pernah bisa utuh memahami perjalanan hidup kita.
Barangkali, satu hal yang bisa kita sepakati, bahwa perjalanan paling rumit dalam hidup ini adalah perjalanan yang tidak kunjung kita mulai, namun kita terus sibuk menanti-nanti kapan semua kekhawatiran ini akan bisa berhenti.
Dalam hidup, ada kalanya kita tidak perlu menjadi siapapun juga, agar kita tahu sejatinya apa yang akan tersisa pada diri kita, ketika semua tengah lepas dari genggaman, bahkan termasuk juga remah-remah harapan.
Di situ kita akan melihat diri kita sebagaimana adanya, rapuh lemah tak berdaya, namun berada sepenuhnya dalam kesadaran akan kuasa Tuhan kita, Sang Penggenggam Jiwa Para Manusia dan Alam Semesta.
Tentunya tidak melulu harus begitu mengharu-biru dan pilu, namun beruntunglah mereka yang menemukan terang cahaya Tuhannya di saat seperti itu, dan beruntunglah pula mereka yang menemukannya di lain waktu.
Ingatlah, meskipun kita tidak mungkin mengubah cara kita memulainya, namun kita selalu bisa menjadikan saat ini sebagai awal yang berbeda, demi menggapai akhir cerita terbaik-Nya, dan memaknai setiap hakikat dinamika perjalanannya.
Pada akhirnya, ini semua bukan semata-mata tentang bagaimana kita akan berakhir dimana, namun juga tentang bagaimana kita bisa sampai berada di sana.
Maka, marilah kita terus belajar, namun berhentilah membanding-bandingkan perjalanan kita yang baru saja dimulai, maupun yang sudah setengah jalan, dengan kisah orang lain yang sudah akan selesai, apalagi yang jauh telah lama usai.
Sebab, keajaiban Illahi tidak akan pernah sedetik pun terhenti, bagi kita yang masih dan akan terus meyakini, bahwa Dia nyata bersama diri yang telah bersaksi, hingga kita menjadi salah-satu bukti, yang pada saatnya nanti, akan kembali pulang dengan kitab di sebelah kanan, ataupun kiri.
Jangan berharap untuk dimengerti, karena peran kita adalah untuk saling menginspirasi, dan saling berbagi sesuai dengan apa yang tengah kita miliki.
Jadi, mari kita jalani hidup ini lagi dengan sepenuh hati, dan tertawalah sesekali, bersama orang-orang yang kita kasihi, baik yang dekat di mata, maupun yg dekat di hati, walaupun masker harus beli lagi
(Jhody Arya Prabawa)
Salam NeoSentra!
Bersyukur🙏
Berdoa🤲
Bahagia👍
Dan Teruslah Berkarya✊
#NeoSentra



0 Comments