(62) 0813-8117-0011 (Help Desk) info@neosentra.com

Jika ditanya ilmu apakah yang paling banyak dikuasai manusia, mungkin jawabannya adalah Ilmu 1001 Alasan.

Ilmu ini begitu banyak dianut oleh umat manusia atas dasar kegunaannya yang sangat praktis dan bisa cocok dalam menghadapi berbagai situasi.

Metode penguasaannya yang relatif sangat mudah dan cenderung otodidak serta tanpa biaya belajar menjadikannya populer sejak kita usia dini.

Hanya saja, ilmu ini juga menjadi penyebab yang paling banyak memakan korban masa depan para penganutnya.

Bicara dari pengalaman, setiap kali saya berhasil mengemukakan suatu alasan yang sebetulnya tidak nyambung namun mengandung unsur kebenaran, saya otomatis merasa satu persoalan sudah teratasi tanpa harus benar-benar mengatasinya.

Dan ilusi inilah yang nantinya akan membangun adiksi kita untuk terus menggunakannya hanya karena kita semakin kecanduan untuk merasa lolos dari suatu persoalan dengan mudahnya.

Serupa dengan narkoba dan alkohol, masalah yang ada hanyalah teralihkan sejenak dari pikiran kita, namun secara substansi cenderung malah menjadi semakin parah.

Lantas mengapa kita sulit untuk melepaskannya?

Sebab, selain sudah menjadi kebiasaan yang mengakar, Ilmu 1001 alasan ini memberikan kita rasa keberhasilan dan kemenangan semu manakala kita menggunakannya dan lawan bicara kita membiarkannya.

Segala sesuatu yang bisa memberikan kita kenikmatan langsung (instant gratification) akan cenderung kita pertahankan sekalipun memiliki dampak merusak yang nyata, selama kerusakan tersebut tidak terjadi sekarang juga.

Yang paling repot adalah tiap kali kita mencari (dan pastinya akan selalu berhasil menemukan) alasan atas setiap keadaan yang tidak sesuai dengan harapan kita, maka biasanya kita merasa masalahnya sudah lumayan teratasi hanya karena kita punya jawaban (baca: alasan) atas semua kegagalan kita, suasana hati yang buruk, rezeki yang terhambat, keadaan rumah tangga yang tidak kondusif, pekerjaan dan team yang tidak produktif, Pemerintah yang tidak proaktif, cuaca yang tidak bersahabat, jempol kaki yang salah tempat, dan lain sebagainya.

Boleh jadi semua alasan tersebut ada benarnya, namun yang menjadi persoalan adalah setiap dari alasan yang kita pilih sebagai penyebabnya akan meninabobokan kita dari upaya untuk mencari solusi yang sesungguhnya.

Kita akan semakin terlatih untuk merasa puas dan nyaman asalkan ada alasan yang bisa kita kemukakan sebagai jawaban atas tiap-tiap kejadian yang kita alami, alih-alih berfokus untuk mencari solusinya.

Dan keadaan pun akan menjadi semakin kompleks ketika kita sudah masuk ke tahap “denial” dengan cara mengabaikan realita yang ada di sekeliling kita, dan sibuk meyakinkan diri sendiri di dalam hati bahwa alasan kita sudah tepat sekalipun orang lain berhasil membuktikan sebaliknya bahwa itu memang semata-mata alasan kita saja!

Tentunya kita akan menjadi orang yang akan sangat merugi jika membiarkan Ilmu 1001 alasan itu menjadi penentu arah masa depan dan suasana hidup kita sehari-hari.

Maka mari kita pahami dengan jernih bahwa menemukan alasan dan penyebab dari setiap persoalan yang tengah kita hadapi adalah satu hal, namun berfokus untuk mencari solusinya adalah satu-satunya cara agar kita bisa mengubah keadaan diri kita sendiri, sambil terus membuka diri atas segala petunjuk Illahi yang mungkin telah lama menunggu untuk disadari.

Jika dada kita sedang sesak dan berat atas segala himpitan persoalan yang sedang datang menyapa, maka upayakanlah untuk tidak mudah menampilkan wajah sendu itu dihadapan siapapun yang sebetulnya berpotensi memberi kita solusinya.

Yakinlah bahwa tidak banyak orang yang tertarik untuk membahas sesuatu yang produktif dan positif bersama orang dengan wajah dan postur penuh kesedihan dan kegalauan.

Untuk itu, sebelum kita melangkah keluar dari sarang kita, tariklah nafas yang dalam dan buang dengan penuh kemantapan beberapa kali hingga kita mulai merasa sedikit lebih ringan dan tenang.

Perbaiki juga postur tubuh kita khususnya pada bagian pundak, dada dan kepala agar tidak menampilkan kesan lemah dan lelah, serta jaga agar tetap konsisten ketika berhadapan dengan orang lain.

Salah satu godaan terberat kita biasanya adalah dorongan untuk menceritakan semua kisah sedih kita di hari Minggu kepada siapa saja yang kita temui, berharap agar mereka mau memberi empati atas keadaan kita ini.

Padahal ketika orang lain memberikan pernyataan empatinya, boleh jadi bagi sebagian orang memang itu hanyalah bagian dari tata krama bicara yang mirip sekali dengan standar basa-basi ketika kita tengah berhadapan dengan orang yang sedang curhat berat.

Ingat, kita itu butuh solusi, bukan empati. Sebab empati itu hak orang lain untuk memberikan dan bukanlah kewajiban untuk dilakukan.

Yuk mari kita sama-sama belajar untuk membuat rezeki (dalam arti seluas-luasnya) tertarik menghampiri kita melalui wajah-wajah yang kita temui sehari-hari yang boleh jadi ternyata memiliki persoalan dan permasalahan hidup yang jauh lebih rumit ketimbang apa yang sedang kita alami disaat ini.

Akan keren sekali ketika kita sedang menghadapi segudang masalah, namun masih mampu menginspirasi orang lain menyelesaikan masalahnya. Hanya saja perlu dijaga agar jangan sampai malah kita terlena dan lupa dengan urusan kita sendiri yaa.. 😉

Ingatlah bahwa dalam kondisi dan situasi apapun, kita akan selalu punya banyak hal untuk disyukuri dan diberdayakan!!!

Luruskan kembali setiap niatan yang pernah tergurat, apa akar dibaliknya yang tersirat, dan mulailah untuk kita jujur pada diri sendiri agar tidak terus tersesat, tenggelam ke dalam pusaran yang semakin kuat.

Yakini dengan segenap jiwa kita bahwa di dalam setiap kesulitan sudah ada pelajaran dan kebaikan yang ingin ditemukan, dan tentunya sesudah tiap-tiap kesulitan, selalu menyusul berbagai kemudahan, dan itulah Jaminan-Nya...

Jadi janganlah kita kelamaan menjadi cemas, dan mulailah perlahan bergerak maju secara cerdas, dengan terus bekerja keras, penuhi takdir kita menjadi manusia berkelas, yang senantiasa ingin bergegas, berbagi manfaat bagi sesama dengan ikhlas.

(NeoSentra)

#NeoSentra