“Mati Sebelum Mati”
Segala yang hidup, sebisa mungkin perlu belajar merasakan mati sebelum mati, agar bisa betul-betul menjalani hidup selagi hidup. Dan tentunya semua yang pernah hidup, pastinya akan mengalami mati, namun sayang sekali, tidak semua yang akhirnya mati pernah benar-benar mengalami hidup. Sebab, salah satu kunci dalam mengarungi kehidupan selagi hidup adalah dengan menyelami kematian sebelum mati.
Hanya saja, yang seringkali terjadi adalah, jauh lebih mudah bagi kita untuk membodohi orang lain, termasuk diri kita sendiri, ketimbang menyadarkan orang lain bahwa mereka sedang dibodohi, termasuk oleh diri mereka sendiri. Inilah yang akan selalu menjadi ironi sehari-hari, terlebih khusus di waktu-waktu belakangan ini. Kita semua cenderung memilih untuk menunggu saja hingga keadaan berubah, sementara keadaan entah sudah berapa kali malah, berusaha mengingatkan bahwa kita lah yang semestinya lebih dulu perlu berubah.
Penolakan kita atas realita lah yang lebih sering membawa penyakit hati ketimbang realita itu sendiri. Contohnya, pada saat cinta kita tertolak, alih-alih tersedak dan dukun bertindak, kita justru malahan perlu bersyukur karena telah mendapatkan pelajaran yang bisa mengingatkan, bahwa kita baru saja kehilangan orang yang memang tidak mencintai kita sekarang, dan sebaliknya, orang tersebut mungkin baru saja kehilangan orang yang jelas mencintainya sekarang. Tapi usahakan jangan bilang-bilang, sebab nanti urusan bisa jadi semakin panjang.
Sebetulnya, kita tidak pernah benar-benar kehilangan. Karena tiap kali kita tertahan dari suatu kemenangan, persis disaat kita sedang tertekan atas berbagai dampak keadaan, maka kemanapun kita memandang, di situlah ada sebentuk pengharapan. Sayangnya kita terlalu lama berdiam di depan pintu kegagalan, hanya untuk memuaskan isak tangis dan ratapan, sampai-sampai ketika pintu kemenangan terbuka berhadapan, pun kita tidak lagi menghiraukan, dan akhirnya hanyut terbawa oleh keadaan yang berjalan, seolah-olah tidak akan pernah ada lagi perubahan bagi masa depan yang belum kelihatan.
Kita juga terkadang gagal paham dan cenderung tenggelam atas kode keras dari Tuhan Semesta Alam. Padahal, setiap penolakan-Nya atas hal yang kita jadikan keinginan, semata-mata merupakan Kasih & Sayang-Nya dalam bentuk peringatan dan perlindungan, yaitu sebuah pengalihan atas jalan lain yang akan membawa kita pada perubahan, dan tentunya juga akan berujung pada kebaikan, selama kita mau menjadikannya pelajaran, dengan didukung oleh keikhlasan, dalam bentuk rasa kebersyukuran, dan bukan keputus-asaan, apalagi hingga melahirkan dan menyebarkan kebencian, yang biasanya muncul untuk mematikan harapan, agar kita merasa lebih nyaman dan tidak sendirian, dengan bermain-main sebagai korban, dan mendapatkan perhatian melalui update status yang isinya baper-an.
Penolakan juga bukan merupakan kesalahan. Nyatanya, tidak jarang penolakan itu malahan lahir dari suatu kelebihan, yang dianggap telah mengusik kekurangan, baik oleh kawan maupun lawan kita yang sepermainan. Penolakan juga bisa menjadi petunjuk atas apa saja yang memerlukan perbaikan, agar kita bisa maju dengan perlahan, khususnya ketika berada dalam situasi penuh dengan ujian, yang berwujud kesombongan bagi jiwa-jiwa yang terbiasa menjadi pemenang, ataupun keminderan bagi mereka yang biasa mencari aman dengan menjadi pecundang.
Ingatlah, bahwa penolakan sama sekali bukan ancaman. Penolakan hanyalah panggilan untuk membangunkan. Penolakan akan mampu mengubah kelemahan jadi kekuatan, dan kekurangan menjadi kelebihan. Namun penolakan hanya akan bermakna kemenangan dan membawa angin perubahan, jika dan hanya jika kita telah berani dengannya berhadapan, percaya dengan sepenuh iman, bahwa tidak akan ada yang pernah bisa keluar dari liputan takdir Tuhan. Oleh karenanya, mudah-mudahan, inilah sebaik-baiknya jalan bagi kehidupan, agar kita terus mendapatkan Keberkahan, untuk bisa bermanfaat bagi kemanusiaan, demi indahnya kebersamaan dalam perbedaan, sebagai wujud Maha Karya dan Kemahabesaran Tuhan. Demikian dan cukup sekian…
(Jhody Arya Prabawa)
Salam NeoSentra!
Bersyukur🙏
Berdoa🤲
Bahagia👍
Dan Teruslah Berkarya✊
#NeoSentra



0 Comments