“Kebenaran & Kesombongan”
Pada gilirannya, terlepas dari banyak atau tidaknya harta-benda kita, kuburannya akan tetap sama, yaitu sesuai ukuran tubuh kita semua.
Oleh karena itu, jangan biarkan pujian membesarkan kepala dan cacian mengecilkan hati, semata-mata hanyalah dinamika permainan saja bagi jiwa.
Kebenaran tidak terletak pada siapanya, namun lebih kepada apanya. Sehingga jelas bahwa kita tidak mungkin bisa memberikan sesuatu yang tidak kita miliki, terkecuali itu adalah imitasi.
Jika yang tersimpan adalah kesombongan, maka tentunya itulah yang akan bermunculan. Ketika yang terbangun adalah kebencian, maka itulah yang akan tersampaikan. Dan manakala yang terbentuk adalah kebijaksanaan, maka itulah pula yang akan tersalurkan. Semua yang keluar merupakan cerminan atas apa yang telah berakar di dalam pikiran. Untuk dipalsukan, tentu saja bisa terbersit, sebab tidaklah sulit sebatas permukaan kulit, namun pastinya akan memberatkan nanti saat harus diungkit.
Sehingga jelas terlalu gegabah, jika jendela yang penuh noktah, digunakan untuk melihat dunia yang masih cerah. Hal itu hanya akan bikin gerah dan hasilnya mungkin menjadikan lelah, mungkin juga malah semakin gelisah. Dan ketika semua dirasa sudah terlanjur basah, maka yang tampil kemudian hanyalah amarah yang akan membuat keadaan menjadi semakin parah, apalagi jika dilakukan secara berjamaah, dan saling melempar fitnah. Semoga kita pun bisa segera berubah, sebelum batin kita menjadi semakin payah, dan kehilangan daya muhasabah.
Berpikirlah dengan tenang, bukan dengan meradang. Dan bertindaklah sesuai peranan, bukan karena ketenaran. Tunjukkan ekspresi tanpa menanti impresi, agar kita bisa tetap belajar tanpa harus menjadi kurang ajar. Kebaikan bukan untuk pameran, melainkan untuk bibit amalan. Kebenaran tidak pernah melahirkan sikap arogan, namun pembenaran itulah yang berakibat demikian.
Setiap kesalahan yang dijahit dari pengalaman pahit, akan menjadi pelajaran dan pengamalan yang membuat kita bangkit, sekalipun harus melalui pintu rasa sakit, yang seringkali hanya mau kita terima sedikit, padahal dari situlah cahaya akan terbit, dan kegelapan lari terbirit-birit. Marilah kita teruskan mendaki bukit, agar tergapai gerbang pembuka bulan sabit, dimana tidak ada lagi hati dan pikiran yang sempit, melainkan hidup yang oleh malaikat kita diapit, hingga tiba waktunya kita di hari berbangkit.
(Jhody Arya Prabawa)
Salam NeoSentra!
Bersyukur🙏
Berdoa🤲
Bahagia👍
Dan Teruslah Berkarya✊
#NeoSentra



0 Comments