Kesadaran Untuk Menerangi, Bukan Untuk Memerangi

b
j

by NeoSentra

}

May 23, 2017

“Kesadaran Untuk Menerangi, Bukan Untuk Memerangi”

Sewajarnya kita perlu untuk terus berupaya menerangi, dan bukan memerangi.

Namun kita juga perlu untuk senantiasa berupaya memulainya dari diri sendiri.

Apakah kita hanya bisa menunjukkan salahnya orang lain demi untuk kita terlihat benar?

Dan apakah kita perlu membuktikan kebodohan orang lain hanya untuk kita terkesan pintar?

Mungkinkah keimanan kita jadi meningkat pesat jika kita mampu menetapkan rendahnya kadar keimanan orang lain?

Ataukah itu semua semata-mata cerminan rasa takut kita sendiri?

Untuk meyakini bahwa pilihan kita sudah benar, maka kita harus memastikan bahwa pilihan orang lain yang berbeda adalah mutlak salah?

Untuk memastikan bahwa kita sudah berada di jalan yang benar, maka kita perlu menegaskan bahwa jalan orang lain adalah sudah pasti sesat?

Cobalah jujur dan tengok darimana rasa benar tersebut muncul, dan darimana pula rasa beriman itu timbul?

Semua itu muncul boleh jadi karena kita bergaul dengan kelompok yang sejenis dengan kita.

Dan ini berlaku pada semua jenis kelompok, minyak ya dengan minyak, dan air ya dengan air.

Namun yang jadi persoalan adalah ketika kita gagal membedakan mana fakta dan mana opini semata.

Padahal jika kita berani untuk belajar diam sesaat, maka saat itu kita tengah belajar untuk mendengar dengan hikmat.

Itulah kenapa polanya serupa, ada yang polanya penuh dengan kemarahan, dan ada yang polanya penuh dengan pembelaan.

Lebih lucu lagi, semuanya merasa sebagai korban dan merasa mendapat dukungan Tuhan, karena tengah membawa panji-panji kebenaran, baik yang di sini maupun yang di sana.

Mari kita semua senantiasa ELING LAN WASPODO, karena pada gilirannya, akan selalu ada kelompok yang merasa keadilan adalah ketika kepentingan kelompoknya terwujud, dan akan selalu ada pula kelompok yang bergembira ketika kepentingan semua kelompok lah yang malah maujud.

Selama kita terus-menerus memposisikan diri sebagai korban, dan menolak untuk menyadari andil kita sendiri dalam pelbagai permasalahan hidup ini, maka itulah momen kehidupan yang paling melelahkan, dimana gunung yang seharusnya didaki malah jadi gunung yang dipanggul sendiri.

Ingatlah selalu, apapun yang akan kita dapatkan di hari akhir nanti, tidak lain dan tidak bukan adalah segalanya yang selama ini kita bawa-bawa kesana-kemari seumur hidup kita ini.

Yuk sekarang kita sama-sama berharap dan memohon serta berikhtiar untuk layak menerima sebanyak mungkin hidayah-Nya, dan berhentilah berpura-pura mendapat hidayah dengan berpura-pura pula mendoakan agar orang yang tidak sepaham dengan kita mendapat hidayah, sebab dengan merasa sudah mendapat hidayah adalah mudah untuk menggelincirkan kita ke jurang kesombongan bersama kaum yang sudah duluan masuk ke sana, yaitu yang mendoakan orang lain yang berseberangan agar mendapat hidayah di media sosial setelah sebelumnya mengumpat mereka terlebih dahulu.

Bagi yang ikhlas, tentunya ada “Hati” di sana sebagai terminal untuk mengirimkan doa-doa terbaiknya, bahkan sekalipun untuk para musuhnya.

Layaknya teko dan ceret, kita hanya akan bisa mengeluarkan dan menampilkan apa yang sudah kita miliki selama ini di dalam diri.

Dan bagi sebuah palu, segalanya akan selalu tampak seperti paku, sehingga demi aktualisasi diri sang palu yang terbungkus nafsu, melihat segalanya harus diperlakukan selalu seperti paku.

Kita tidak akan pernah benar-benar bisa menemukan sesuatu yang sebetulnya memang tidak pernah benar-benar hilang, oleh karena itu, mari kita bersama-sama kembali menyadari peran kita sebagai pribadi, agar kita tahu Sang Diri Sejati akan mengajak kita berbuat apa lagi hari ini, guna memenuhi qudrat dan iradat Illahi, sejak kita bangun tidur di gelap hari tadi.

Seperti kata pepatah, di setiap tempat ada kata-kata yang tepat, dan pada setiap kata ada tempatnya yang tepat, maka marilah kita belajar tahu tempat dan paham kalimat agar kita bisa berhenti mengumpat dan mulai lah kita banyak berbuat, tentunya yang bukan maksiat, melainkan yang mengundang hikmat dan memberi berkat.

Sepakat tidak sepakat, bulan depan kita makan ketupat!!!

(Jhody Arya Prabawa)

Salam NeoSentra!

Bersyukur🙏

Berdoa🤲

Bahagia👍

Dan Teruslah Berkarya✊

#NeoSentra

Get Insights!

Follow Us!

Related Posts

Elegi Wifi & Biji

Elegi Wifi & Biji

"Elegi Wifi & Biji" Wahai Tuhanku yang Maha Memelihara Ciptaan-Nya... Sayang sekali pohon ratusan tahun ini masih belum juga bisa memancarkan WIFI sebagaimana pohon-pohon lainnya di dunia nyata untuk melayani manusia mengarungi dunia maya......

read more
Vertikal – Horizontal

Vertikal – Horizontal

"Vertikal - Horizontal" Cinta amat suka menikmati pikirannya sendiri saja, yang membuat pikiran kita sendiri gagal dalam memahaminya… Dan manakala kita mendengar ungkapan soal cinta tanpa syarat, maka biasanya ungkapan itu justru malah dijadikan...

read more

Give Your Comment!

Feel free to express your opinion about this post, or simply share your relevant experience related to this post so we can all learn from each other.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Insights!

Get inspiring weekly insights from NeoSentra to light-up your life…

Subscribe To Our Newsletter!

Subscribe To Our Newsletter!

Join our mailing list to receive special programs and valuable insights, including actionable strategy for your life transformation process.

Thank You! We are sending you a confirmation link to your email, so check your inbox soon or your spam folder if it's not there.

Pin It on Pinterest