Hikmah & Pengalaman

b
j

by NeoSentra

}

May 20, 2017

“Hikmah & Pengalaman”

Pada saat kita menyadari bahwa hidup ini tidak pernah berhenti memberikan pelajarannya kepada kita, maka sudah sewajarnya kita pun jangan pernah berhenti mempelajarinya.

Kita sudah diamanahi untuk belajar sejak dari buaian hingga ke kuburan, namun yang seringkali terluput adalah bahwa sebetulnya kita sedang diharapkan agar mengamati proses kelahiran dan kematian manusia, khususnya tentang perjalanan diri kita sendiri, dan bukan semata-mata tentang anjuran untuk jangan pernah berhenti belajar.

Dan belajar dari pengalaman itulah yang seringkali dianggap sebagai Guru Terbaik. Kenapa? Karena biasanya pengalaman memberikan kita terlebih dahulu prakteknya, baru kemudian dihadirkan “teori” atas makna dan pemahamannya setelah kejadian, ujian dulu baru mengerti.

Namun pengalaman tersebut baru bisa menjadi guru ketika kita betul mendapatkan pelajaran setelahnya, dan bukan sekedar mengalami tanpa ada substansi sama sekali yang pernah dimengerti, dan terjadi berulang-kali.

Jika kita hanya sibuk berkata “ambil saja hikmahnya” atau “setiap kejadian pasti ada hikmahnya”, maka pengalaman itu hanya akan menjadi ingatan belaka karena pelajarannya justru ada pada penemuan atas hikmahnya tersebut itu.

Mari kita sadari bersama bahwa kemampuan untuk mempelajari dan memahami sesuatu adalah keterampilan yang bisa kita pelajari, sedangkan kesempatan untuk bisa mempelajari dan memahaminya adalah anugerah Illahi, namun kemauan untuk mempelajari dan memahami semua ini adalah murni pilihan kita sendiri, lengkap dengan segala konsekuensi, baik untung ataupun rugi, akan kembali ke diri kita pribadi.

Dan jangan dilupakan bahwa perubahan adalah ujung akhir dari setiap pembelajaran, sehingga dalam kita berkehidupan, tidak ada penyesalan melainkan perjalanan dan peningkatan ke arah kemajuan dan kebaikan.

Dalam hal ini, semua orang adalah Guru bagi sesama dan sekaligus juga murid bagi dirinya sendiri, sebab ketika ada satu orang sedang mengajar, maka saat itu sekurang-kurangnya sudah ada dua orang yang tengah belajar.

Semoga kita semua tidak terjebak dalam kesibukan mengelaborasi wacana melalui media sosial kita, namun malah menjadi lupa untuk berkarya secara nyata, karena kebangkitan manusia adalah akar bagi kebangkitan bangsa dimanapun Ia berada, khususnya bagi Indonesia kita bersama.

Mari kita belajar untuk belajar agar kita bisa terus belajar dan mengajar, baru kemudian kita belajar untuk mengajar, dengan menciptakan kesempatan untuk membuat perbedaan, bahwa sekalipun hidup adalah permainan, namun tetap saja akan ada pengakhiran, yang menuntut pertanggung-jawaban.

Ingatlah selalu bahwa mungkin saja ada diri yang bersemangat menciptakan neraka di dunia, hanya karena nafsunya yang tertipu menginginkan “surga” yang dia pun bahkan tidak pernah menyadarinya, bahwa segala bentuk nafsu yang tidak pada tempatnya, adalah bahan bakar bagi api neraka.

Setiap kemajuan haruslah melewati suatu ujian agar jelas adanya kelayakan, dimana setiap kelayakan adalah merupakan hasil dari semangat pencapaian.

Dan semangat pencapaian adalah sebuah pengulangan yang terus diperjuangkan, sehingga setiap pengulangan pun lambat-laun akan menjelma menjadi kebiasaan.

Maka, entah menjadi seorang pecundang ataupun menjadi seorang pemenang, itu semua adalah pola kebiasaan yang kita sendiri tengah tanamkan jika terus-menerus terjadi secara berulang.

Oleh karena itu, untuk melihat seperti apa diri kita adanya, amatilah sikap kita pada masa-masa kritis dan situasi terburuk kehidupan kita, dan juga pada saat-saat kita tengah sendirian, dan itulah “wajah” kita yang sudah tercetak menjadi berbagai keyakinan dan pola pemikiran.

Semua selalu bisa diupayakan selama kita masih berkemauan untuk mencapai suatu perubahan dan kemajuan, dan itulah esensi dari suatu KEBANGKITAN.

Kebangkitan adalah momen setelah kematian, yaitu kematian dari segala bentuk kemalasan dan ketidakpedulian, sehingga kebangkitan adalah merupakan perwujudan dari pencerahan dan penyingkapan.

Kebangkitan harus dimulai dari diri sendiri yaitu Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur secara pribadi, yang dimulai dari kepiawaian kita dalam mengelola sebuah Kerajaan Sejati di dalam diri kita sendiri, yang merupakan intisari dari Tan Hana Dharma Mangrwa, hingga akhirnya maujud menjadi sebuah kepedulian dan rasa kebersamaan, yang kemudian menjelma menjadi arah pergerakan, hingga akhirnya melahirkan semangat kebangsaan, hingga tercapainya suatu tujuan, Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur sebagai sebuah kesadaran kolektif nusantara, karena dibungkus oleh Bhinneka Tunggal Ika, yang merupakan wujud daya cipta Tuhan Yang Maha Esa, sehingga akhirnya kita semua bisa mempersembahkan generasi yang lebih baik lagi bagi Tanah Air Indonesia, dan bukan sekedar mewariskan Tanah Air Indonesia yang lebih baik lagi bagi generasi setelah kita.

Perhatikan di belahan-belahan bumi yang lain, mereka semua adalah satu suku bangsa yang dicerai-berai dalam berbagai bentuk negara. Namun di Indonesia kita ini, ada begitu banyak suku bangsa yang bersatu-padu di dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta kita.

Bersyukurlah atau kufurlah sekalian, namun malu lah jika kita ingkar bahwa kita sudah hidup dan berkembang-biak di tanah dan air bumi pertiwi Indonesia kita ini.

Sekarang, bangkitkan diri pribadi kita sendiri, agar kita juga andil dalam membangkitkan bangsa dan negeri Indonesia ini, dimulai dari diri sendiri, pada hari ini, sambil menyambut bulan suci yang sebentar lagi terjadi, sebagai kesempatan untuk merenungi apa yang akan kita beri bagi bangsa ini, setelah kita menerima berbagai berkah Illahi lewat bumi pertiwi, sehari-hari di negeri ini, maka jujurlah pada diri sendiri, bahwa kita masih harus terus belajar dan belajar lagi, hingga akhir hayat nanti, kita dipanggil kembali…

(Jhody Arya Prabawa)

Salam NeoSentra!

Bersyukur🙏

Berdoa🤲

Bahagia👍

Dan Teruslah Berkarya✊

#NeoSentra

Get Insights!

Follow Us!

Related Posts

Elegi Wifi & Biji

Elegi Wifi & Biji

"Elegi Wifi & Biji" Wahai Tuhanku yang Maha Memelihara Ciptaan-Nya... Sayang sekali pohon ratusan tahun ini masih belum juga bisa memancarkan WIFI sebagaimana pohon-pohon lainnya di dunia nyata untuk melayani manusia mengarungi dunia maya......

read more
Vertikal – Horizontal

Vertikal – Horizontal

"Vertikal - Horizontal" Cinta amat suka menikmati pikirannya sendiri saja, yang membuat pikiran kita sendiri gagal dalam memahaminya… Dan manakala kita mendengar ungkapan soal cinta tanpa syarat, maka biasanya ungkapan itu justru malah dijadikan...

read more

Give Your Comment!

Feel free to express your opinion about this post, or simply share your relevant experience related to this post so we can all learn from each other.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Insights!

Get inspiring weekly insights from NeoSentra to light-up your life…

Subscribe To Our Newsletter!

Subscribe To Our Newsletter!

Join our mailing list to receive special programs and valuable insights, including actionable strategy for your life transformation process.

Thank You! We are sending you a confirmation link to your email, so check your inbox soon or your spam folder if it's not there.

Pin It on Pinterest