Hidup & Kehidupan Kita

b
j

by NeoSentra

}

Mar 24, 2016

“Hidup & Kehidupan Kita”

Ada setidaknya 2 pola pikir manusia yang seringkali mendasari kehidupan kita sehari-hari dalam menghadapi kesempatan yang datang. Yang pertama adalah mereka yang menunggu kesempatan datang menghampiri mereka bagaikan keajaiban yang tiba-tiba saja muncul dikarenakan mereka ingin sebisa mungkin menghindari segala bentuk resiko dan ketidak-pastian hidup ini. Dan biasanya, ketika pada akhirnya kesempatan itu memang datang, mereka lah yang paling tidak siap menyambutnya. Sedangkan pola pikir yang kedua adalah mereka yang terus mencoba dan berusaha menciptakan kesempatan bagi diri mereka sendiri dengan membuka diri bagi segala kemungkinan, atau minimal mempersiapkan diri mereka sedini mungkin sehingga kapanpun kesempatan muncul, maka biasanya mereka akan menjadi yang paling siap untuk menyambutnya, atau dengan kata lain mereka bagaikan menciptakan keberuntungannya sendiri.

Yang membedakan antar kedua pola pikir tersebut adalah bagaimana mereka menyikapi Rasa Takut yang muncul dari diri mereka sendiri. Dimulai dari rasa takut gagal, rasa takut mendapat malu, rasa takut untuk berbeda dari kebanyakan orang, rasa takut untuk berkorban dan membayar harga yang harus ditunaikan dalam bentuk kerja keras dan kerja cerdas, rasa takut akan merugi dan sia-sia, dan seterusnya. Rasa takut ini bahkan lebih utama menjadi dialog batin kita ketimbang berfokus pada hasil akhir yang ingin kita alami sehari-hari. Berapa banyak kita berkata pada diri sendiri bahwa kita hanya tidak ingin mengecewakan orang lain, kita hanya tidak ingin mempermalukan diri sendiri, kita hanya tidak ingin terlihat gagal, kita tidak ingin semua kacau, kita tidak ingin semua, berantakan, kita tidak ingin mendapat masalah,dan begitu pula dalam hal berinteraksi dengan orang lain. Kita sering berkata kepada anak-anak kita agar mereka jangan nakal, kita berharap agar jalanan tidak macet hari ini, dan masih banyak lagi contoh lainnya yang sudah menjadi keseharian kita. Mengapa tidak kita katakan saja semoga jalanan lancar, baik-baik di rumah ya Nak, semoga semua lancar, semoga kita berhasil, semoga kita sukses, semoga tujuan kita tercapai, dan seterusnya. Berhati-hatilah dengan isi pikiran dan dialog batin kita sendiri, karena setiap sel tubuh kita senantiasa mendengarkan dan menunggu apapun perintah tuannya untuk diwujudkan melalui suara dalam hati kita yang mungkin banyak tidak kita sadari arahnya.

Barangkali, hanya ada 3% saja (cuma nebak) kekhawatiran kita yang sebetulnya jadi kenyataan, namun 97% sisanya hanya menjelma menjadi Rasa Takut yang terus memakan begitu banyak energi dan sumber daya serta kesempatan yang ada di depan kita. Kita telah sering merampok diri kita sendiri melalui parasit yang ternyata kita terus pelihara dengan penuh semangat. Dan ketika kita melihat orang lain mencapai sukses dan mendapat kebaikan melalui berbagai kesempatan yang langka, kita cenderung bergumam bahwa mereka hanya beruntung semata, bahwa mereka hidup dalam keadaan yang jauh lebih baik dari kita dengan fasilitas yang sangat memadai, dan seterusnya. Rasa Takut sesungguhnya adalah bagian dari mekanisme perlindungan kita yang paling mendasar, namun lingkungan kita terkadang mengubah banyak hal alamiah menjadi sama sekali berbeda dan melawan kodratnya sendiri manakala kita gagal menyikapi dan menempatkan sesuatu secara proporsional.

Kita juga tidak jarang mempertanyakan apakah Tuhan memang hanya memberi kita cuma segini saja, atau memang ada lagi di lain hari. Pada kenyataannya, setiap hari selalu ada individu-individu baru yang mendapat dan mencapai apa-apa yang telah kita khawatirkan sudah tidak lagi tersedia secara layak bagi diri kita sendiri. Bukankah nasib kita masih sangat mungkin berubah jika kita sendiri mau memulai perubahan itu? Dan apakah kita sudah yakin bahwa kita telah melakukan dan memberikan yang terbaik yang kita mampu untuk mencapai impian kita dan menjemput rezeki/anugerah Tuhan yang ada melalui berbagai pintu kemungkinan yang tidak disangka-sangka? Melakukan dan memberikan yang terbaik adalah juga bagian dari wujud rasa bersyukur kita kepada Tuhan yang telah memberikan nikmat yang tak terhingga disetiap kedipan mata, detakan jantung dan helaan nafas kita. Jika kita hanya memberi 10, tentunya agak lucu jika kita kemudian berharap mendapat 100, tapi melakukannya dengan penuh pamrih dan bukan karena keikhlasan. Janji Tuhan akan balasan yang berlipat ganda boleh jadi hanya akan mengenai orang-orang yang justru memberi namun tanpa berharap kembali.

Setiap kali kita akan mencapai sesuatu, akan selalu ada orang atau situasi yang seolah-olah membuat kita semakin lemah dan menghambat kita dengan begitu gagah. Namun apakah semua tantangan tersebut memang ditujukan untuk menghentikan segala upaya kita? Ataukah sebetulnya segala bentuk peristiwa dan manusia yang konon diistilahkan sebagai ujian dan cobaan itu ternyata tidak lain dan tidak bukan merupakan bagian dari persiapan dan bekal kita agar baik secara fisik maupun mental kita mampu menerima anugerah dan keberuntungan yang ada di depan sana? Berapa banyak tokoh yang hancur justru karena mendapat kekuasaan, kemasyhuran dan kekayaan dalam hidupnya hanya karena mereka tidak siap batinnya menjalani perubahan tersebut, atau tidak kuat mempertanggung-jawabkan beban amanahnya karena memang belum pernah betul-betul terlatih untuk menerima amanah secara baik? Bahkan semua rintangan yang ada pun sangat bisa untuk menjadi ukuran seberapa kuat tekad dan niat kita dalam mencapai sesuatu sehingga harga dari sesuatu itu kita bayarkan searah dengan besaran dan kerumitan dari halangan yang telah dan akan kita hadapi dan atasi nantinya.

Kita hanya bisa melihat hasil akhir dari kerja keras dan kerja cerdas seseorang, namun kita tidak akan pernah benar-benar bisa melihat apa saja yang telah mereka lakukan, korbankan dan berikan selama sekian waktu tanpa henti dalam membangun apapun yang mereka impikan dan capai itu. Kita seringkali berpikir bahwa semua ini adalah tentang uang, padahal uang hanyalah sebuah alat tukar saja dimana alat tukar itu didapatkan dari hasil keringat, ilmu, jerih-payah, waktu, tenaga, pikiran, darah dan perjuangan atas hal-hal yang berharga dalam hidup mereka untuk mendapatkan sesuatu yang lebih berharga lagi bagi dirinya dan orang-orang yang dicintainya. Kita lalu mereduksinya hanya dengan melihat hasil akhirnya semata dalam bentuk adanya uang. Uang bukanlah akar dari kejahatan! Kutipan dan jargon di media sosial seringkali menyesatkan kita namun karena terasa bijak maka kita langsung mem-posting ulang secepatnya tanpa pernah benar-benar merenungkannya. Kecintaan akan uanglah yang menjadi akar dari kejahatan, sedangkan uang hanyalah sekedar alat yang bisa digunakan untuk kebaikan ataupun keburukan, tergantung siapa penggunanya dan untuk apa digunakannya serta dengan cara apa menggunakannya. Jargon lainnya adalah soal hiduplah bersama orang yang menerima kita apa adanya. Maka bisa saja kita simpulkan bahwa orang tersebut tidak akan membuat kita bertumbuh dan tidak akan memberi kontribusi apapun dalam hidup kita selain menina-bobokan kita dengan tujuan menerima kita apa adanya. Mungkin ada baiknya jika kita hidup bersama orang yang mampu membuat kita menjadi lebih baik dan bertumbuh dalam berbagai aspek kehidupan yang relevan bagi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Bukankah kita hidup itu bertujuan untuk menjadi lebih baik lagi dari diri kita di hari kemarin?

Keberhasilan kita dalam hidup ini adalah sebuah proses yang akan berujung pada selesainya masa hidup kita di alam dunia ini untuk kemudian meninggalkan tubuh kasar kita ke tahap berikutnya. Namun sebelum itu terjadi, kita perlu jujur pada diri kita sendiri. Apabila kita harus mati besok, sudahkah tujuan hidup kita tercapai apapun itu? Sudahkah kita memberikan yang terbaik yang kita bisa? Benarkah kita sudah memberdayakan segala anugerah Illahi yang telah tercurah kepada kita selama ini? Apakah kita sudah cukup bersyukur dalam mendaya-gunakan semua nikmat pemberian tersebut? Dengan jalan apa dan kepada siapa saja kita sudah membawa perubahan yang lebih baik lagi? Ataukah jangan-jangan kita hanya merasa bahwa seandainya Tuhan memberi tambahan sedikit lagi, maka kita baru bisa bertindak? Apakah kita hanya sibuk melihat apa yang kita belum punya dan lupa menghitung apa yang telah ada sejak lama pada diri kita sendiri ini? Kegagalan adalah ilusi terbesar umat manusia yang beradab ini, sebab sesungguhnya yang ada hanyalah pengalaman yang berpotensi menjadi pembelajaran jika kita mau dan mampu menggali hikmahnya dengan merenungkannya baik-baik. Kita lah yang seringkali mensabotase hidup dan masa depan kita sendiri dengan jalan menipu diri melalui penyangkalan atas kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita ambil karena kita terlalu takut pada rasa takut itu sendiri. Suatu hari nanti, kita akan lebih banyak menyesali hal-hal yang tidak kita lakukan yang seharusnya kita lakukan, ketimbang hal-hal yang telah kita lakukan selama ini.

Sebetulnya, setiap kali kita mengalami apapun bentuk peristiwa yang menyakitkan hati, kita tidak pernah benar-benar sakit secara fisik. Namun kita sudah begitu terbiasa untuk selalu berfokus pada sakit secara emosional dan mental yang kemudian seiring berjalannya waktu terus menumpuk dan melumpuhkan kita, hingga mencapai suatu titik dimana segalanya tidak lagi bisa diperbaiki. Segenap emosi dan mentalitas kita akan mengajak untuk menyerah dan berhenti karena itu adalah jalan keluar termudah sekaligus terlemah dalam menerima suatu keadaan secara alamiah. Padahal pada diri kita, setidaknya ada 4 ruang yang terbentuk dan mempengaruhi setiap tindak-tanduk kita sejak lahir hingga mati nanti, yaitu Fisikal, Emosional, Mental & Spiritual. Bagaikan kamar-kamar dalam sebuah rumah yang kita tempati, semua kamar tersebut tentunya selalu membutuhkan perawatan dan perhatian pemilik sekaligus penghuninya. Namun yang biasa terjadi adalah kita cenderung menyibukkan diri di satu kamar saja sepanjang hari dan hanya sesekali sempat menyambangi ketiga kamar lainnya. Kita kehilangan kepekaan kita atas kamar-kamar lainnya dan menjadi rapuh tidak utuh lagi. Kamar-kamar lainnya pun menjadi gelap dan pengap karena hanya diri kita lah yang bisa memasukinya untuk membuka jendela dan menghadirkan cahaya ke dalamnya. Oleh karena itu, janganlah kita biarkan kegelapan bersemayam di relung batin kita terlalu lama, dan rawatlah anugerah Illahi ini sebelum waktunya tiba untuk kita serahkan kembali kepada Sang Empunya Kehidupan nanti.

Janganlah pernah kita kalah tanpa perjuangan terbaik kita. Dan janganlah kita pernah jatuh tanpa ada upaya untuk bangkit kembali. Sesekali, pada saat kita tengah berlomba adu cepat tidak memberi kemajuan yang nyata dalam hidup kita, maka ada baiknya kita memperlambat dulu lajunya kehidupan ini untuk sementara. Sebab, tidak jarang lomba adu cepat dalam hidup ini ternyata membuat kita melewatkan hal-hal yang justru penting untuk bekal kita mencapai kemajuan cita-cita kita sendiri. Ada banyak ide, strategi, sumber daya, kasih-sayang, perhatian, semangat dan cinta yang tersedia di sepanjang arena kehidupan kita masing-masing. Maka, mari kita melambat sejenak. Melambatlah ketika menjadi cepat tidak membawa kita kemanapun. Melambatlah agar kita bisa melihat pemandangan dan keadaan di sekitar kita. Melambatlah agar kita bisa memandang wajah-wajah di sekeliling hidup kita. Dan melambatlah agar kita bisa mengenali jalan hidup kita yang sebenarnya. Serta melambatlah agar kita bisa mensyukuri apa yang telah ada, menghargainya, tersenyum kepadanya, dan untuk kemudian melaju kembali lebih cepat lagi dari sebelumnya. Kita semua adalah pejuang dan kita semua adalah petualang. Namun kita semua juga adalah pendatang yang suatu hari nanti harus kembali pulang. Untuk itu, mari kita terus berupaya berbagi terang bagi sesama para pendatang, amin!

(Jhody Arya Prabawa)

Salam NeoSentra!

Bersyukur🙏

Berdoa🤲

Bahagia👍

Dan Teruslah Berkarya✊

#NeoSentra

Get Insights!

Follow Us!

Related Posts

Elegi Wifi & Biji

Elegi Wifi & Biji

"Elegi Wifi & Biji" Wahai Tuhanku yang Maha Memelihara Ciptaan-Nya... Sayang sekali pohon ratusan tahun ini masih belum juga bisa memancarkan WIFI sebagaimana pohon-pohon lainnya di dunia nyata untuk melayani manusia mengarungi dunia maya......

read more
Vertikal – Horizontal

Vertikal – Horizontal

"Vertikal - Horizontal" Cinta amat suka menikmati pikirannya sendiri saja, yang membuat pikiran kita sendiri gagal dalam memahaminya… Dan manakala kita mendengar ungkapan soal cinta tanpa syarat, maka biasanya ungkapan itu justru malah dijadikan...

read more

Give Your Comment!

Feel free to express your opinion about this post, or simply share your relevant experience related to this post so we can all learn from each other.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Insights!

Get inspiring weekly insights from NeoSentra to light-up your life…

Subscribe To Our Newsletter!

Subscribe To Our Newsletter!

Join our mailing list to receive special programs and valuable insights, including actionable strategy for your life transformation process.

Thank You! We are sending you a confirmation link to your email, so check your inbox soon or your spam folder if it's not there.

Pin It on Pinterest