(62) 0813-8117-0011 (Help Desk) info@neosentra.com

Kita hidup di zaman NOW dimana banyak hal penting menjadi tidak penting, dan hal tidak penting pun bisa menjadi sangat penting.

Bagi mereka-mereka yang berhasil mencapai kesuksesan, itu karena mereka memang bertekad untuk mencapainya, dan mereka bertindak berdasarkan itu.

Namun bagi mereka-mereka yang belum berhasil, kebanyakan karena mereka hanya kepingin berhasil saja, baru sekedar kepingin, belum sampai ke tahap keputusan yang berujung pada adanya tindakan yang nyata berorientasi pada tujuan.

Dari dulu juga semua anak sekolah kepingin masuk 10 tertinggi nilanya, atau minimal naik kelas lah, namun sah-sah saja jika disimpulkan bahwa tetap ada lebih banyak anak sekolah yang belajarnya seperti “hidup segan mati dia takut”.

Semua dari kita pun selalu menginginkan hidup yang lebih baik lagi, namun berapa banyak dari kita yang lalu membuat rencana hidupnya menjadi jelas, dan bertindak atas dasar itu untuk mewujudkannya?

Kita hampir selalu menginginkan perubahan, tetapi lupa untuk membayar harganya, dengan membiasakan diri untuk melupakan bahwa Tuhan sejatinya telah selalu memberikan kita cukup sumber daya untuk bisa memulai upaya apa saja dengan menggunakan segalanya yang sudah tersedia.

Bersyukur itu tidak cukup hanya dengan pengakuan, apalagi sekedar ucapan, sebab bersyukur itu semestinya adalah berwujud tindakan yang menunjukkan adanya kemajuan kita dalam berkehidupan dengan menggunakan apapun itu yang telah dianugerahkan Tuhan, sesuai dengan niat dan tujuan, dan bukan semata-mata berhenti pada ucapan dan pengakuan yang tak berkesudahan.

Contohnya pada saat kita sedang berbaring di tempat tidur leyeh-leyeh sejenak, biasanya di situlah kita malah bisa mengingat hal-hal apa sajakah yang seharusnya kita kerjakan seharian ini, namun ternyata belum juga kita tuntaskan.

Lalu kita akan mengambil HP kita untuk melihat apakah ada status update yang perlu dikomentari atau minimal di like pada media sosial kita untuk kemudian lupa lagi tadinya mau berbuat apa yang lebih berguna.

Iya, kita tetap tidak mengerjakannya karena sudah waktunya istirahat kan, jadi jangan sampai kelupaan update status kekinian sebelum kita ketiduran.

Dan seringkali pula kita mulai mengubah definisi sukses kita ketika berhadapan dengan dunia yang sudah semakin lucu ini, yang sebetulnya disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan buruk kita sendiri yang terus kita pelihara, hingga lama kelamaan kita pun bilang, “yah gue mah udah biasa hidup kayak begini!”, eeeaaaa the story of my life pun dimulai.

Persoalannya, kalau kita sudah sangat terbiasa hidup dengan cara begitu, ya jangan mimpi kejauhan lah untuk bisa merubah keadaan kita kedepannya, lha wong kitanya sudah nyaman dan berdamai dengan keadaan, ya tinggal dinikmati aja hingga penghabisan.

Bahkan secara perlahan pun kita akan semakin mudah untuk mengakui bahwa setelah kita berkali-kali gagal, itu adalah bukti nyata bahwa kita telah sukses untuk mencoba berkali-kali mencapai kesuksesan.

Dan meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita adalah seorang pahlawan yang telah bekerja keras pantang menyerah untuk keluarga, sekalipun tidak kunjung ada hasilnya untuk mereka semua.

Ya, kerja keras berorientasi pada prosesnya dengan mengabaikan kerja cerdas untuk berorientasi pada hasilnya, dan kita pun bangga karena terlihat begitu sibuk di mata keluarga.

Jargon bahwa orang yang pernah gagal itu adalah orang yang setidaknya terbukti pernah “mencoba”, akhirnya dijadikan pembenaran atas kegagalannya sehari-hari.

Padahal, yang awalnya bilang bahwa kegagalan itu adalah bukti bahwa kita sudah mencoba, justru adalah orang-orang yang sudah berhasil, dan bukan orang-orang yang menyerah tanpa hasil.

Cerita utuhnya sering terlupakan bahwa saban kali mereka yang sudah sukses ini gagal dalam suatu cara, maka mereka akan mencoba lagi ribuan cara lain untuk supaya berhasil, hingga mereka akhirnya berhasil.

Jadi ini sama sekali bukan kisah tentang orang yang sudah pernah mencoba dan gagal, melainkan orang-orang yang selalu melakukan percobaan dengan berbagai jalan hingga akhirnya mereka berhasil dan menjadi pelajaran bagi kehidupan!

Tidak sedikit pula yang terinspirasi kepada orang-orang sukses yang putus sekolah dimana bagi orang-orang sukses itu, putus sekolah sama sekali bukan hambatan karena mereka memang selalu punya semangat belajar dan upaya serta kemampuan yang mumpuni untuk terus maju mengarungi hidup ini.

Lah kan repot jadinya kalau yang mengutip soal suksesnya orang-orang putus sekolah itu adalah orang yang memang sebetulnya malas saja untuk sekolah, lalu berkilah bahwa si Anu tidak selesai sekolahnya namun tetap bisa menikmati hidup yang berlimpah.

Semua orang pada dasarnya memang menyukai kisah hidup orang lain yang berhasil keluar dari situasi sulit, namun tidak jarang malah situasi sulitnya yang dibanggakan sebagai modal kesamaan permulaan, yang seolah-olah kalau mulainya sama-sama masih keder, maka akhir ceritanya otomatis akan sama-sama jadi Milyarder.

Pahamilah bahwa kegagalan itu tidak akan pernah cukup untuk menjamin keberhasilan, sebagaimana pengalaman itu tidak akan pernah bisa untuk menjamin kesuksesan.

Kegagalan baru akan berguna jika kita mau mengambil pelajaran darinya, dan begitu pula halnya dengan pengalaman, baru akan bisa dijadikan guru kehidupan ketika kita telah mampu menemukan pencerahan darinya untuk melanjutkan perjalanan.

Melakukan yang terbaik pada hari ini seolah-olah tidak akan ada lagi hari esok adalah cara terbaik untuk mempersiapkan hari esok yang lebih baik lagi dari hari ini.

Ingatlah bahwa masih sangat wajar kalau dalam menjalani hidup ini, kita mengalami banyak peristiwa yang bikin jantung kita sampai deg-degan, karena jikalau nanti jantung kita sudah tidak lagi deg-degan, maka besar kemungkinan kita ini sudah beristirahat dengan tenang di sebuah pemakaman…

(NeoSentra)

#NeoSentra